Rabu, 29 Maret 2017
Zikif Effendy Lie Bersaudara Lebih Awal Ziarah Makam Leluhur
JAMBI – Keluarga Besar Zikif Effendy Lie (Bakko) lebih awal melakukan ziarah kuburan (27/3-2017) di Taman Pemakaman Tionghoa Pondok Meja Jambi (占碑华人義山), kakak beradik ada yang datang dari Singapura, Jakarta, Batam dan Jambi. Selain bersih-bersih makam orangtua mereka Lie Tiong Lam (李中南), selaku kakak sulung Zikif Effendy Lie (李鴻章) juga mewakili keluarga lakukan ziarah ke makam leluhur yang di makamkan di kilo meter 7 dibilangan Jalan Kapten Pattimura, Kelurahan Rawasari, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi.
Kamis, 19 Januari 2017
Rabu, 27 April 2016
Senin, 14 Desember 2015
Selasa, 24 November 2015
占碑华社贤达李中南逝世三週年紀念
【本报讯】11月20日(周五)。占碑华社贤达李中南逝世3周年纪念,中国道士林泽宗主持仪式肃穆庄严。李中南老先生长子李鸿章,传承着父亲的衣钵,今是占碑福庆堂的主席。
李中南,占碑华社名流,占碑安溪公会前主席,为人乐善好施,广结善缘,交游广阔,尊重各阶层群体。他三年前在新加坡鹰阁医院去世,享年91岁,葬于中国的墓地,KM 12平房台,李老先生留下妻子和6个男孩和2个女孩。有六位内孙子和四位外孙。李老在天之灵也感到欣慰,因为孩子已经成龙成凤,祖辈的功德可以是延至子孙后代,身逝音容宛在,风遗德业长存。
在这纪念仪式里,除了祭品水果外,还有用竹子,纸板等,制成仿房屋灵厝。灵厝两旁还有两位女佣及用品。并贴上死者姓名“通过燃烧化火成阴府厝”。焚烧灵厝,(是中国人千百年来的传统之一),这种传统依然保持在炎黄子孙传统习俗里。
本报记者明光报道/
romy供图
http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20151123/244153.shtml
李中南,占碑华社名流,占碑安溪公会前主席,为人乐善好施,广结善缘,交游广阔,尊重各阶层群体。他三年前在新加坡鹰阁医院去世,享年91岁,葬于中国的墓地,KM 12平房台,李老先生留下妻子和6个男孩和2个女孩。有六位内孙子和四位外孙。李老在天之灵也感到欣慰,因为孩子已经成龙成凤,祖辈的功德可以是延至子孙后代,身逝音容宛在,风遗德业长存。
在这纪念仪式里,除了祭品水果外,还有用竹子,纸板等,制成仿房屋灵厝。灵厝两旁还有两位女佣及用品。并贴上死者姓名“通过燃烧化火成阴府厝”。焚烧灵厝,(是中国人千百年来的传统之一),这种传统依然保持在炎黄子孙传统习俗里。
本报记者明光报道/
romy供图
http://www.guojiribao.com/shtml/gjrb/20151123/244153.shtml
Jumat, 20 November 2015
Mengenang Lie Tiong Lam Berpulang Kepangkuan Sang Khalik
JAMBI, ayojambi,com - Keluarga besar Lie Tiong Lam/ Ramli (李中南) hari Jumat (20/11) mengadakan acara mengenang almarhum Lie Tiong Lam berpulang kepangkuan Sang Khalik. Meski beliau telah tiada, namun cita-cita almarhum tidak pupus seketika. Cita-cita luhur diteruskan kepada sang anak sulung, yaitu Zikif Effendy Lie (李鴻章) yang kini menjabat Ketua Kelenteng Hok Kheng Tong Jambi 福慶堂主席 [Lihat Foto: Memperingati Kepergian Tokoh Masyarakat Jambi Lie Tiong Lam]
Almarhum Lie Tiong Lam (李中南) dikenal sebagai sesepuh masyarakat Tionghoa di Jambi dan juga sebagai Ketua Pembina Perkumpulan Aneka Kesejahteraan (ANKE) Jambi.
Lie Tiong Lam yang dihormati siapapun serta dikenal oleh berbagai golongan dari kelas bawah hingga pejabat negara, beliau wafat di Gleneagles Hospital Singapore dalam usia 91 tahun dan di kebumikan di Pemakaman Bumi Langgeng, KM 12 Pondok Meja, Muaro Jambi.
Lie Tiong Lam (Ramli) meniggalkan seorang istri, dan 6 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan. Boleh dibilang almarhum adalah orang yang paling bahagia, lantaran anak-anak sudah pada dewasa dan bisa mandiri serta memiliki 6 cucu dalam dan 4 cucu luar.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, keluarga almarhum membakar Replika rumah-rumahan (灵厝) yang terbuat dari bahan bambu, karton, kertas warna warni, pernak pernik lukisan serta segala perlengkapan isi rumah tangga, dan dayang-dayang. “Membakar rumah-rumahan berikut segala isi ini untuk dikirim kepada almarhum Lie Tiong Lam.” Pengiriman replika rumah-rumahan (灵厝) merupakan salah satu tradisi warga Tionghoa sejak ribuan tahun silam hingga kini masih dipertahankan sebagian masyarakat Tionghoa.
Selain itu, mereka juga mengirim perlengkapan lainya, seperti, sabun mandi/ sabun cuci, handuk, pakaian, sepatu, minyak sayur, garam, beras sebagai syarat untuk orangtua mereka pergunakan di alam baka, tidak ketinggalan beberapa dayang/ pembantu rumah tangga untuk membantu orangtua mereka di alam baka.
Serta ada dua jenis kertas yang digunakan dalam tradisi ini, yaitu kertas yang bagian tengahnya berwarna keemasan (Kim Cua) dan kertas yang bagian tengahnya berwarna keperakan (Gin Cua). Menurut kebiasaan-nya Kim Cua (Kertas Emas) digunakan untuk upacara sembahyang kepada dewa-dewa, sedangkan Gin Cua (Kertas Perak) untuk upacara sembahyang kepada para leluhur dan arwah-arwah orang yang sudah meninggal dunia. Bahwa dengan membakar kertas emas dan perak itu berarti mereka telah memberikan kepingan uang emas dan uang perak kepada para dewa atau leluhur mereka; sebagaimana diketahui kepingan emas dan perak adalah mata uang yang berlaku pada jaman Tiongkok kuno.
Semua bahan diletakan didalam rumah-rumahan, setelah itu anak laki-laki melakukan sembahyang dengan mengundang roh/ arwah orangtua mereka untuk dapat menempati rumah-rumahan yang dibeli oleh anak-anak lekaki, seusai itu baru rumah-rumahan dibakar.
Upacara sembahyang mengenang Lie Tiong Lam dipimpin oleh Lim Tek Chong Taoshe dari Tiongkok (China) 中国道士林泽宗. Tidak lupa keluarga besar almarhum membawa berbagai sajian kesukaan almarhum Lie Tiong Lam. (Romy)
Langganan:
Postingan (Atom)